Sleman (11/03/2016). Pembaretan adalah bagian dari sisi
keprajuritan Tentara Nasional Indonesia yang memang terkait dengan sejarah
perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Semua itu dimaksudkan agar para prajurit
baru dapat memahami betapa berharga dan sucinya pengabdian kepada ibu pertiwi
yang seringkali berujung kepada nyawa yang menjadi taruhannya. Simaklah di
Yonif 403/WP, walaupun Prajurit Yonif 403/WP telah mendapat baret di kecabangan
infanteri namun apabila prajurit tersebut masuk di Yonif 403/WP, statuan Yonif
403/WP memiliki tradisi dan karakteristik tersendiri dalam berbagai hal yang
berbeda dengan satuan asalnya maka tradisi pembaretan dan pemasangan Brevet
Infanteri tetaplah sakral bagi seorang prajurit Yonif 403/WP. Karena untuk
mendapatkan baret dan brevet kebanggaan perlu minimal 3 – 5 bulan menempuh
pendidikan kecabangan infanteri untuk memiliki skill dan kemampuan yang memang
seperti diakui oleh tentara asing SAMPAI BATAS PUNCAK atau bisa dikatakan SADIS
! Di kecabangan Infanteri, prajurit akan mengalami apa yang disebut dengan
Dopper. Belum tentu juga Tentara luar negeri seperti Malaysia, Singapoera,
Thailand, USA, dll berani mengikuti latihan Dopper seperti yang dilaksanakan
oleh Pasukan TNI.
Biasanya
setelah tradisi pembaretan maka diadakan tradisi pengenalan satuan. Disini para
prajurit baru dikenalkan kepada kehidupan batalyon / satuan dan senior.
Sebenarnya keras itu perlu untuk menempa mental prajurit namun kekerasan yang
berlebihan justru berbahaya. Sikap yang keras (bukan kaku) perlu dari seorang
pelatih dalam latihan agar prajurit dapat mengerti dan cepat menguasai skill
yang diperlukannya. Sikap keras seorang komandan regu, peleton, kompi sangat
perlu dalam pertempuran agar motovasi prajuritnya tidak drop.
Tiap
satuan di TNI itu unik. Mereka punya sesanti, lambang dan keterkaitan sejarah
(legenda) bangsa Indonesia. Satu - satunya organisasi tentara profesional yang
mempunyai hal seperti itu di dunia adalah TNI. Multi kultur bangsa Indonesia menyebabkan
satuan tempur nya memiliki gerak dan tradisi khas satuan yang beragam.
Sebanyak
59 prajurit Yonif 403/WP pada hari Jum’at tanggal 11 Maret 2015,
menyelenggarakan pembaretan bagi yang baru masuk satuan Yonif 403/WP. Kegiatan
tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap corp infanteri dan
semangat nasionalisme serta Pembaretan merupakan bentuk tradisi Koprs Infanteri
sebagai implemetasi pembinaan yang memiliki aspek kultural. Pembaretan
merupakan momentum penting serta memiliki nilai historis bagi prajurit
infanteri.
Jarak yang ditempuh prajurit Yonif
403/WP pada acara tradisi pembaretan tersebut sekitar 40 km dengan beban ransel
seberat 5,5 kg, senjata SS1 V1, Helm tempur 3 in 1 serta perlengkapan lainnya
yang berada di pinggang. Jarak tersebut dibagi menjadi 4 etape yang harus
dilalui oleh prajurit. Setiap etape diperkirakan berjarak 10 km. Adapun Tempat
yang dilalui peserta pembaretan Prajurit Yonif 403/WP antara lain sebagai
berikut :
1. Goa
Selarong.
Goa Selarong adalah gua bermuatan sejarah yang berlokasi di
Dukuh Kembangputihan, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul,
Provinsi DI Yogyakarta. Gua yang terbentuk di perbukitan
batu padas ini digunakan sebagai markas gerilya
Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa
(1825-1830) melawan tentara Hindia Belanda.
Pangeran Diponegoro pindah ke gua ini setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh
Belanda.
Selarong sendiri merupakan desa
strategis yang terletak di kaki bukit kapur, berjarak sekitar enam pal (sekitar
9 km) dari kota Yogyakarta. Setelah Peristiwa di Tegalrejo sampai ke
Kraton, banyak kaum bangsawan yang meninggalkan istana dan bergabung dengan
Pangeran Diponegoro. Mereka adalah anak cucu dari Sultan Hamengkubuwono I, II,
dan III yang berjumlah tidak kurang dari 77 orang dan ditambah pengikutnya. Dengan
demikian pada akhir Juli 1825 di Selarong telah berkumpul bangsawan-bangsawan
yang nantinya menjadi panglima dalam pasukan Pangeran Diponegoro. Mereka adalah
Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, Pangeran Panular, Adiwinoto
Suryodipuro, Blitar, Kyai Mojo, Pangeran Ronggo, Ngabei Mangunharjo, dan
Pangeran Surenglogo.
2. Monumen
Soeharto
Museum
Soeharto adalah adalah
bangunan bersejarah berbentuk museum yang menyimpan memori dan peninggalan - peninggalan Jenderal
Besar TNI Soeharto yang diresmikan pada tahun 2013. Museum ini berdiri di atas tanah milik Soeharto yang
terletak di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta.
3. Kompi
Senapan C Yonif 403/WP
Kipan C Yonif 403/WP merupakan bagian
dari Yonif 403/WP yang keberadaan di Demak Ijo, Sleman. Kipan C adalah kompi
terpisah dari Yonif 403/WP.
4. Monumen
Diponegoro
Museum ini dibangun
untuk memperingati kepahlawanan Pangeran Diponegoro atas jasanya melawan
penjajahan Belanda di tanah Jawa memiliki koleksi sejumlah 195 buah termasuk
beberapa peninggalan artefak yang berada di luar gedung seperti tempat wudhu,
comboran (tempat minum kuda), yoni dan dinding berlubang (tembok jebol) yang
merupakan jalan meloloskan diri Pangeran Diponegoro dari kepungan Belanda.
Sebagian besar Koleksi
berupa peralatan perang di masa pra kemerdekaan seperti keris, tombak, pedang,
cincin, subang, timang, bedhil, tameng, bandhil, perlengkapan kuda dan panah.
Monumen ini merupakan bukti kegigihan Pangeran Diponegoro, seorang putra Sultan
Hamengku Buwana III yang pada tahun 1825 - 1830 melakukan perlawanan terhadap
kolonialisme Belanda. Dinding yang jebol merupakan artefak yang dapat Anda
lihat di sana.
Dinding ini dijebol oleh
sang pangeran dengan tangan kosong untuk meloloskan diri dari kepungan pasukan
Belanda. Selain itu, Anda juga bisa melihat beragam koleksi seperti kereta,
tempat makanan kuda, serta senjata yang pernah digunakan olehnya dan
pasukannya.
5. Benteng
Vredeburg
Beteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan
Yogyakarta. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah
bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia. Pada tanggal 7
Pebruari 1966 Beteng Vredebug merupakan markas Yonif 403/WP, sedangkan untuk
kompi – kompinya berada di kentungan bekas asrama L yang telah dibubarkan.
6. SMP
N 4 Yogyakarta
Secara geografis, SMP 4
Yogyakartaterletak di tengah-tengah kota Yogyakarta dekat dengan pusat wisata
budaya Kraton, 500 m dari pusat perdagangan Malioboro, dan dekat pusat
pemerintahan Kota maupun Propinsi. Tepatnya terletak di jalan protokol (Jl. Hayam
Wuruk 18 Yogyakarta). SMP N 4 Yogyakarta merupakan tempat dimana diresmikannya
Yonif 403/WP. Yonif 403/WP merupakan Batalyon
Infanteri C yang merupakan peleburan dari Yonif 437 di Purworejo, Yonif 438 di Yogyakarta, Yonif 445 di Surakarta dan Yonif 447 di Klaten. Pada tanggal 1 Agustus 1965, dalam
suatu upacara di alun – alun SMP N 4 Yogyakarta diresmikanlah Yonif 403/WP.
7. Yonif
403/WP
Yonif 403/WP merupakan satuan tempur
yang berada di bawah Kodam IV/Diponegoro. Batalyon tersebut berada operasional
Korem 072/Pamungkas. Markas Yonif 403/WP berada di Jalan Kaliurang km 6,5
kentungan.
Setelah tiba di Mako Yonif 403/WP,
peserta tradisi pembaretan melaksanakan upacara penyematan Brivet Infanteri
yang dipimpin langsung oleh Danyonif 403/WP Mayor Inf Muchlis Gasim, S.H.,
M.Si. Hadir dalam upacara tersebut Wadanyonif 403/WP Mayor Inf Yoga Yastinanda,
Pa Staf Yonif 403/WP, Jajaran Danki Yonif 403/WP serta perwakilan prajurit
Yonif 403/WP. Upacara tersebut dilaksanakan di depan tugu Yudha Bakti Yonif
403/WP.
Ditempat terpisah, selaku Komandan
Latihan Pembaretan Kapten Inf Rajiko mengatakan bahwa dalam pelaksanaan
kegiatan tersebut seluruh peserta pembaretan melaksanakan kegiatan dengan penuh
semangat kejuangan terbukti pada waktu di Monumen Soeharto, biarpun capek dan
lelah mereka sangat antusias menyaksikan film documenter perjuanagan Bapak
Soeharto. Tidak terlihat wajah lelah pada peserta pembaretan. Hal itu mereka
lakukan dengan ikhlas dan suatu tradisi corps infanteri yang harus mereka tempuh
agar bisa menjadi bagian dari Yonif 403/WP.
Dokumentasi giat pembaretan Yonif 403/WP :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar